BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Pages

Wednesday, May 18, 2011

Tempayan yang retak





Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar; masing-masing bergantung pada kedua hujung sebuah pikulan, yang dibawanya menyilang pada bahunya. Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satu lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, kerana dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari paras yang seharusnya dapat diberikannya.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, "Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu."

"Kenapa?" tanya si tukang air.

"Kenapa kamu merasa malu?"

"Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah paras air dari yang seharusnya dapat saya bawa kerana adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Kerana cacatku itu, saya telah membuatmu rugi," kata tempayan itu.

Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyedari bahawa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih kerana separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu? Itu kerana aku selalu menyedari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya.

Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang."

Pengajaran:

Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Tuhan maha bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita

Berkasih Sayang Tanpa Ucapan

*kisah ini  dicopy dari sebuah laman web.sekadar untuk dikongsi bersama. harap beri manfaat buat semua.insyaallah.*



Suatu hari saya dibelanja oleh teman saya makan mee di kedai mee yang agak terkenal. Harganya tak mahal tetapi sedap. Kami duduk di meja bulat yang dapat menampung sepuluh orang bila mengelilingi meja. Di meja itu ada enam orang, saya, teman saya dan empat orang kawan yang lain.

Ketika asyik makan, satu keluarga baru duduk di sebelah kami. Mereka telah memesan mee dan sedang menunggu pesanan. Keluarga tersebut terdiri daripada sepasang suami isteri yang masih muda dan seorang anak yang berusia dalam enam tahun. Mereka keluarga yang jauh dari sederhana. Pakaian mereka lusuh dan kusam.

Anaknya kelihatan seperti baru sembuh dari penyakit dan sedang menarik hingusnya keluar masuk. Hingusnya seperti nombor sebelas dan kadang2 seperti angka satu dengan warna kuning kehijau-hijauan. Si ibu dengan penuh kasih sayang mengelap hingus yang tidak berhenti keluar masuk hidung anaknya. Pasangan itu sangat bahagia melihat anaknya bermain sambil tertawa. Seperti makan mee itu merupakan perayaan menyambut kesembuhannya. Ketika mee sudah sampai keluarga tersebut makan dengan lahapnya.

Keadaan tersebut tidak berlaku bagi kami semua terkecuali teman saya. Bagi kami berlima (termasuk saya) keadaan tersebut merupakan bencana dan penyiksaan. Bayangkan, bagaimana rasanya makan mee dengan mencium satu keluarga yang bau badannya tidak enak. Belum lagi melihat dan mendengar hingus yang ditarik keluar masuk dan sesekali dibersihkan oleh ibunya.

Setiap kali menyuap mee ke mulut sambil menghirup kuahnya, rasanya seperti hingus telah tercampur dengan makanan dan membuat selera makan hilang. Tidak beberapa lama kemudian, keempat kawan yang duduk semeja dengan kami meninggalkan meja satu persatu tanpa menghabiskan makanan. Melihat ini ada rasa kepahitan yang terpancar di wajah keluarga muda itu, seperti rasa rendah diri dan terasing melihat sikap saya dan empat lainnya.

Tetapi itu tidak lama, terutama ketika mereka melihat teman saya, keceriaan mereka pulih kembali. Teman saya tetap menikmati mee tanpa mengendahkan orang lain. Seolah-olah tidak ada bau di sekitarnya dan tidak ada bunyi hingus. Saya juga terpaksa berpura2 tidak endah dan terus menghabiskan mee kerana mahu menghormati teman saya yang belanja saya makan.

Selesai makan, kami masih duduk dua puluh minit sebelum meninggalkan kedai makan. Saya pelik dengan teman saya yang luar biasa. Biasanya setelah makan, dia hanya duduk paling lama sepuluh minit. Sekali lagi saya terpaksa menemani teman saya dengan perasaan yang sangat jengkel.

Akhirnya kami keluar meninggalkan kedai dan keluarga muda, saya merasa lega. Dalam perjalanan pulang, teman saya mengatakan dia sangat terganggu duduk berhampiran keluarga tersebut. Ia merasa ada bau dan terganggu dengan bunyi hingus anaknya itu. Dia juga merasa seperti apa yang saya rasakan.

Teman saya juga mengatakan, jika dia meninggalkan keluarga tersebut ketika mereka bergembira, keluarga itu akan merasa terpukul, tidak berharga, terasing dan putus asa. Si suami sedang memberi yang terbaik bagi keluarganya. Mereka bersukacita merayakan kesembuhan anaknya. Si suami telah mengeluarkan wang yang bagi mereka cukup mahal dari hasil kerja keras hanya untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Wang itu tidak begitu banyak untuk ukuran kami tetapi tidak bagi keluarga itu.

Saya sangat terkejut mendengar kata kata teman saya. Dan tidak menyangka teman saya telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagi keluarga itu. Dengan caranya yang berbeza - bertahan makan mee sampai habis dan menunggu dua puluh minit setelah makan, telah memberi semangat baru bagi keluarga itu.

Saya teringat bagaimana rasa kepahitan, rendah diri dan terasing di wajah kedua suami isteri itu ketika melihat pelanggan yang lain meninggalkan meja tanpa menghabiskan makanan dan melihat tingkah saya. Saya juga teringat bagaimana pasangan ini kembali ceria begitu melihat sikap teman saya yang tidak kisah.

Pertama kali dalam hidup ini, saya menyedari bagaimana untuk mengasihi sesama manusia tanpa mengatakannya benar-benar tidak mustahil. Teman saya dapat menunjukkan kasih sayang kepada sesama saudara tanpa perkataan dalam waktu sesingkat itu. Cukup hanya dengan meneruskan makan mee sampai habis. Menunggu dua puluh minit setelah selesai makan. Yang terakhir menahan rasa bau untuk menyempurnakan segalanya telah menunjukkan suatu keajaiban kasih dan dilakukan oleh seorang teman.

Ajaib bagaimana teman saya menegur saya tanpa mengatakan sesuatu. Dia tidak menuduh tetapi cukup membuat saya rasa sangat terpukul dan malu tetapi tidak marah. Saya kembali mengingatkan diri sendiri bagaimana selalunya kita mengatakan mengasihi sesama manusia tetapi tidak pernah melakukan
nya.



Monday, April 25, 2011

indahnya ukhwah 



semalam
 kali terakhir kita bertemu
akhawat sume akan pindah kampus baru
bukak sem nanti
kita dah tak jumpa dah
akhawat kat sana
tinggallah ana kat sini
akhawat kata..
patah tumbuh hilang berganti
nk pujuk ana..
tapi..
akhawat tahu kan
yang baru takkan sma dgn yg lama
ana betul syg akhawat sume

ana tengah tgk gambar2 kita sekarang ni
tetibe je air mata mengalir
ana rindu akhawat
kalau sebelum ni
kita akan bertemu di satu tempat
kat tempat tu 
kita solat sme2
kita sembang2
kita turun mkn sme2
gurau senda tak penah lekang 
bibir sentiasa tersenyum
melihat telatah akhawat
tapi sekarang
kat tempat tue
akhawat dah takde
suasana pun dah lain
ana tahu
kita berpisah bukan kehendak kita
kita berpisah kerana menuntut ilmu
ana tahu
kita akan jumpa lagi
ana cuma terasa kehilangan
betapa indahnya ukhuwah ini
subhanallah
aku benar merasa kehilangan
saudara seagamaku
saudara seperjuanganku
aku benar merindui mereka ya allah
betapa indahnya ukhwah ini
ya allah
kau jagalah mereka ya allah
ana benar rindu mereka :-(





Monday, April 18, 2011

thank you Allah..



I asked for strength..
And Allah gave me difficulties to make me strong

I asked for wisdom..
And Allah gave me problems to solve

I asked for courage..
And Allah gave me obstacles to overcome

I asked for love..
And Allah gave me troubled people to help

I asked for favours..
And Allah gave me opportunities

“TO MY DEAR SELF...MAYBE YOU JUST RECEIVED NOTHING YOU WANTED..BUT TRULY,YOU JUST RECEIVED EVERYTHING YOU NEEDED”

DON'T FORGET TO SAY..

.........

THANK YOU ALLAH..

Saturday, January 1, 2011

Pencuri  Iman











p/s: semoga kita menjadi asbab bertambahnya iman insan lain bukan asbab berkurangnya iman mereka.insyaallah.

-ainulhayyat- :-)

aku masih meniti

20 tahun sudah berlalu meninggalkan ku
Apakah yg tlh ku lakukan sepanjang usia itu?
Subhanallah!
Begitu cepat masa berlalu
Hati ku resah
Cukupkah bekalan ku ?
Usia berlalu bagaikan tiupan angin
Terasa damai didalamnya
Namun , bila ia berlalu pergi
Baru lah aku tersedar
Terasa diri kerdil dan hina
Membiarkan usia itu pergi
Tanpa ku pasti
Cukupkah bekalan ku
Dosa – dosa semalam masih lagi menghantui
Amal pula tidak seberapa
Ya allah, sungguh aku amat malu!
Aku malu pada diri
Malu pada Mu ya Allah
Di usia yg baru menjengukku
Aku terasa makin hampir dengan janjiMu
janjiMu tentang kematian
aku terasa hidup dalam kematian
aku benar gelisah
memikirkan amalanku
tiap kali bgun dari lena
diri ini sentiasa mengucapkan syukur
kerna masih diberikan peluang
untuk terus beribadat pdMu
sungguh aku terasa tiada daya
hidup mati semuanya ketentuanMu
aku hanyalah mahu menjadi abdulMu yg sejati
wahai penciptaku,
andai diri ini tekun menuntut ilmu
hingga lalai dari mengingatiMu
ampunkanlah diri ku
andai diriku mencintai dunia
hingga lupa cinta Mu
ampunkanlah aku ya rahman
andai diri ini terpesona dgn makhluk ciptaanMu
hingga lupa indah lagi Sang Penciptanya
ampunkan aku jua
andai aku memperoleh sebuah kejayaan
lantas merasa riak dan takabbur
kau ampunkanlah diriku ya allah
aku mohon padaMu ya Allah
pisahkanlah aku dgn dunia
kerna aku takut terpesona dgn isinya
ya allah, pisahkanlah aku dari cinta manusia
andai cinta itu makin menjauhkan ku dariMu
kerna aku paling takut dicintai manusia
lalu merasa damai dgnnya
hidup gmbira dlm angan
tanpa memikirkan bekalan akhiratku
padahal aku akan menuju ke sebuah kg abadi
tempat tinggal yg akan kekal selamanya
aku mahu dicintai dan mencintai
namun aku benar takut
aku takut akan lupa pdMu
mana mungkin aku dpt mencintai insan lain
andai diriku belum mencintai diri
dan juga masih meniti
dalam mencari cintaMu
namun,jika kau takdirkan
kami saling mencintai
kau letakkanlah kami dalam cintaMu
agar kami saling mencintai kernaMu
bantulah aku dalam meniti kehidupan ini
aku masih muda dalam meniti cintaMu
akan tetapi telah tua dalam meniti usia hidup
di usia baru ini,
aku mohon padamu ya Allah
kau tetapkanlah aku dalam agamaMu dan lindunganMu
kau tetapkan hati ku untuk mencintai Mu
kau tetapkanlah hatiku utk menjadi mukminah sejati
kuatkanlah aku dalam meniti alam pengajian ini
kerna aku benar mahu menjadi doktor yang mukminah
semoga aku dapat berbakti pd agama dan masyarakat

izinkanlah aku untuk mendapat keampunanMu
izinkanlah jua diri ini memperoleh cintaMu
izinkanlah aku bersamuMu ya Allah
duhai tuhanku,
aku benar2 berasa bahagia
bila merasa diri ini bertuhan
bertuhankanMu 

kerna Ana hanyalah Abdullah
abdul yang merindukan Rabbnya

Ana uhhibuka ya Rabb.
 -ainulhayyat-

Monday, November 1, 2010


JALAN KE SYURGA




Pada setiap petang Jumaat, selepas solat Jumaat, selepas melayani para jamaah di Masjid,Imam dan putera lelakinya yang berumur 11 tahun akan keluar ke bandar untuk mengedarkan risalah bertajuk “Jalan Ke Syurga” dan juga menyampaikan ceramah agama.


Pada petang Jumaat itu, seperti biasa Imam dan putera lelakinya akan keluar untuk mengedarkan risalah. Bagaimanapun pada petang tersebut keadaan di luar rumah sangat sejuk dan hujan pula turun dengan sangat lebat.


Budak itu memakai baju sejuk dan baju hujan dan berkata “OK ayah, saya sudah bersedia”. Ayahnya berkata “Bersedia untuk apa?”. Budak itu menjawab “Ayah, masa telah tiba untuk kita keluar mengedarkan buku-buku tentang Islam ini”. Ayahnya membalas “Anakku, di luar sana sangat sejuk dan hujan lebat pulak”. Dengan muka yang kehairanan, budak itu bertanya ayahnya, “Tetapi ayah, adakah manusia tidak masuk neraka jika hari hujan?” Ayahnya menjawab, “Anakku, Ayah tak akan keluar dengan cuaca begini..”. Dengan nada sedih, budak itu bertanya, “Ayah, boleh tak benarkan saya pergi?”. Ayahnya teragak-agak seketika, kemudian berkata, “Anakku, awak boleh pergi. Bawalah buku ini semua dan berhati-hati” .


Kemudian, budak itu telah keluar dan meredah hujan. Budak sebelas tahun ini berjalan dari pintu ke pintu dan lorong-lorong sekitar bandar. Dia memberikan risalah dan buku kepada setiap orang yang ditemuinya. Setelah dua jam berjalan dalam hujan, akhirnya tinggal hanya satu naskhah padanya. Ketika itu dia telah basah kuyup dan berasa sejuk hingga ke tulang. Budak itu berhenti di satu penjuru jalan sambil mencari seseorang untuk diberikan buku tersebut. Namun keadaan di situ lengang. Kemudian dia berpatah balik ke rumah pertama yang dia lalu di lorong itu.

Dia berjalan di kaki lima menuju ke rumah tersebut. Bila sampai di pintu hadapan, dia menekan suis loceng namun tiada sesiapa yang membuka pintu. Dia tekan lagi dan lagi, tetapi masih tiada jawapan. Dia tunggu lagi tetapi masih tiada jawapan. Akhirnya dia berpaling untuk meninggalkan rumah tersebut, tetapi seperti ada sesuatu yang menghalangnya. Dia kembali ke pintu itu dan menekan lagi suis loceng dan buat pertama kalinya mengetuk pintu dengan kuat. Dia tunggu, kemudian seperti sesuatu di anjung rumah itu menghalangnya supaya jangan pergi.

Dia menekan suis loceng sekali lagi dan kali ini dengan perlahan pintu dibuka. Berdiri di hadapan pintu itu seorang perempuan tua yang berwajah kesedihan. Dengan perlahan perempuan tua itu bertanya, “Apa yang boleh saya bantu awak, wahai budak?”. Dengan senyuman serta mata yang bersinar yang boleh menyinarkan bumi, budak itu berkata, “Makcik, saya mohon maaf kalau saya telah mengganggu makcik. Saya hanya ingin memberitahu bahawa Allah sangat sayang dan sentiasa melindungi makcik. Saya datang ini hendak memberikan sebuah buku yang terakhir ada pada saya ini. Buku ini menerangkan semua tentang Tuhan, tujuan sebenar Tuhan menjadikan kita dan bagaimana untuk mencapai kebahagiaan daripada-Nya” .. Kemudian, budak itu menyerahkan buku terakhir itu dan berpaling untuk balik.

Sebelum berjalan balik, perempuan itu berkata, “Terima kasih ya anak dan semoga Tuhan memberkatimu” . Selepas solat Jumaat pada minggu berikutnya, Imam menyampaikan ceramah agama seperti biasa. Dia menamatkan ceramahnya dengan bertanya, ” Ada sesiapa yang ingin bertanya soalan atau ingin berkata sesuatu?”.
Dengan perlahan, di barisan belakang di kalangan tempat duduk muslimat, suara seorang perempuan tua kedengaran di speaker, “Tiada di kalangan jemaah yang berkumpul ini mengenali saya. Saya tidak pernah hadir sebelum ini. Sebelum hari Jumaat yang lepas, saya belum lagi memeluk agama Islam bahkan tidak terfikir langsung untuk memeluknya.

Suami saya telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, meninggalkan saya sebatang kara, saya benar-benar keseorangan di dunia ini.” Pada petang Jumaat yang lepas, ketika cuaca sejuk dan hujan lebat, saya telah bertekad untuk membunuh diri kerana sudah putus harapan untuk hidup. Jadi saya mengambil seutas tali dan sebuah kerusi lalu menaiki loteng di rumah saya. Saya ikat tali tersebut dengan kuat pada kayu palang di bumbung rumah kemudian berdiri di atas kerusi, hujung tali satu lagi saya ikat di sekeliling leher saya. Sambil berdiri di atas kerusi, saya berasa benar-benar keseorangan, patah hati.

Saya hampir-hampir hendak melompat tiba-tiba loceng pintu berbunyi di tingkat bawah dan saya tersentak. Saya berfikir untuk menunggu sebentar, dan pasti orang itu akan pergi. Saya tunggu dan tunggu, tetapi bunyi loceng semakin kuat dan bertubi-tubi. Kemudian orang yang menekan suis loceng itu, mengetuk pintu pula dengan kuat. Saya berfikir sendirian lagi “Siapalah di muka bumi ini yang boleh buat begini? Tiada siapa pernah tekan suis loceng itu atau nak berjumpa dengan saya”. Saya longgarkan tali ikatan di leher dan kemudian pergi ke pintu hadapan. Ketika itu bunyi loceng kuat dan semakin kuat.

Bila saya buka pintu dan lihat, sukar untuk dipercayai oleh mata saya, di anjung rumah saya itu berdiri seorang budak yang sangat comel yang bersinar wajahnya seperti malaikat, tidak pernah saya jumpa sebelum ini di dalam hidup saya.

Budak itu tersenyum. Oh! Saya tidak dapat hendak gambarkan kepada anda semua. Perkataan yang keluar daripada mulutnya menyebabkan hati saya yang telah lama mati tiba-tiba hidup semula, seruan budak itu seperti suara bayi yang sangat comel. “Makcik, saya datang hendak memberitahu bahawa Allah sangat menyayangi dan sentiasa melindungi makcik”. Kemudian dia memberikan kepada saya sebuah buku bertajuk ” Jalan Ke Syurga” yang saya sedang pegang ini. Bila “malaikat kecil” itu telah pulang meredah sejuk dan hujan, saya menutup pintu dan membaca dengan perlahan setiap perkataan yang tertulis di dalam buku tersebut.

Kemudian saya naik semula ke loteng untuk mendapatkan semula tali dan kerusi. Saya tak perlukannya lagi. Oleh sebab di belakang buku ini ada tertera alamat tempat ini, saya sendiri datang ke masjid ini ingin mengucapkan syukur kepada Tuhan. Tuhan kepada budak kecil yang telah datang tepat pada waktunya, yang dengan demikian telah terhindar jiwa saya daripada keabadian di dalam neraka. Ramai yang berada di dalam masjid ketika itu menitiskan air mata. Mereka melaungkan TAKBIR.ALLAH HU AKBAR. gemaan takbir bergema di udara.

Imam iaitu ayah kepada budak itu turun dari mimbar pergi ke barisan hadapan di mana “malaikat kecil” itu sedang duduk. Dia mendakap puteranya dengan air mata keluar tanpa disedarinya.

Berbahagialah anda kerana membaca kisah ini. Jangan biarkan kisah ini di sini sahaja. Bacalah lagi dan sampaikan kepada yang lain. Syurga adalah untuk umat-Nya. Ingatlah, dengan menyebarkan firman Allah boleh mengubah hidup seseorang yang hampir dengan anda. Sila kongsi kisah menarik ini. Sebarkanlah kalimah Allah, kalau kita bantu Allah, Allah akan membantu kita dalam semua perkara yang kita buat.



“Pada hari ini, orang-orang kafir telah putus asa (daripada memesongkan kamu) dari agama kamu (setelah mereka melihat perkembangan Islam dan umatnya), sebab itu janganlah kamu takut dan gentar kepada mereka, sebaliknya hendaklah kamu takut dan gentar kepadaKu. Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepada kamu, dan Aku telah redakan Islam itu menjadi agama untuk kamu, maka sesiapa yang terpaksa kerana kelaparan (memakan benda-benda yang diharamkan) sedang ia tidak cenderung hendak melakukan dosa (maka bolehlah ia memakannya), kerana Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani”